Pada OSKM
tanggal 23 Agustus, saya mendapatkan beberapa pelajaran dari
narasumber-narasumber yang hebat. Hal yang dibahas secara umum adalah
perekonomian Indonesia.
Saat ini
Indonesia belum memiliki pemimpin yang mengerti akan kebutuhan rakyatnya.
Kebanyakan pemimpin saat ini lebih mementingkan kepentingan pribadinya, bukan
kepentingan bersama rakyatnya. Bahkan dalam pelaksanaannya, ekonomi Indonesia
memiliki masalah dalam hal pendanaan. Contohnya, suku bunga bagi UKM adalah
15%. Bandingkan dengan negara yang setara, misal Malaysia yang memiliki suku
bunga UKM hanya 2%. Hal ini membuat daya saing perekonomian UKM di Indonesia
menjadi rendah.
Melihat
kondisi ini, Indonesia butuh pemimpin yang memiliki kearifan lokal. Indonesia
perlu pemimpin yang demokratis, pluralis, dan berbudaya. Ya, berbudaya. Budaya
harus tetap ada, bahkan harus dimanfaatkan untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi.
Budaya yang seperti apa? Pak Gita Wiryawan menyebutnya sebagai ‘Budaya Gangnam’.
Budaya Gangnam memiliki empat unsur, yaitu kemahiran teknologi, keseimbangan
demokrasi, kekayaan budaya, dan kemajuan ekonomi. Empat unsur ini dapat mengisi
pasar ekonomi dengan produk lokal.
Kita semua
bisa berkontribusi untuk merubah keadaan ini. Tidak perlu memulai dari nol
lagi, tapi Pak Gita berpendapat bahwa revolusi agraria dapat membawa
perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Revolusi agraria seperti di
negara Korea berawal dari petani yang sukses dalam pekerjaannya, kemudian
pemerintah mendanai dan mendukung mereka untuk belajar dan membuat barang
dengan teknologi yang lebih tinggi.
Masalah yang
kedua adalah terlupakannya kebutuhan setempat. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia
belum merata, ekonomi dinilai hanya jadi besaran untuk kepentingan pemilik
modal dan teknologi. Peristiwa tersebut terjadi karena para pelaku ekonomi
hanya menjalankan ekonomi dengan logika, tidak disertai dengan perasaan dan
empati. Ibu Tri Mumpuni memiliki solusi melalui kewirausahaan sosial. Pada
dasarnya kewirausahaan sosial adalah melakukan apa yang kita cintai untuk
kepentingan bersama. Setelah terciptanya kewirausahaan sosial perlu diadakan
perbaikan visi pembangunan untuk akses hidup yang lebih baik dan perubahan
paradigma investasi yang menjunjung tinggi potensi dan kebutukan lokal.
Semua
permasalahan di atas tentunya bisa terselesaikan jika kita mencintai negara
kita sendiri. Jika dijelaskan oleh Wanadri, Indonesia adalah negara yang
memiliki keindahan tiada batas dan potensi yang luar biasa. Indonesia memiliki
berjuta suku bangsa yang memiliki keunikan masing-masing. Karena letak
geografisnya, Indonesia dikelilingi oleh Ring of Fire yang merupakan potensi
sebagai sumber daya geotermal. Dengan 17000 pulau yang dimiliki Indonesia, kita
patut mencintai negeri sendiri. Rasa cinta inilah yang dibutuhkan untuk
memimpin Indonesia. Pemimpin harus responsif terhadap permintaan rakyat, harus
nasionalis tetapi dapat bersaing secara internasional. Permimpin yang seperti
itulah yang dapat memajukan perekonomian Indonesia.
No comments:
Post a Comment