Friday, August 23, 2013

Resume Seminar di Sabuga (Adhika Widya Sena - FTI - 16713224)

Berdasarkan seminar yang telah dilaksanakan di Sabuga dengan beberapa pembicara dari disiplin ilmu yang berbeda, banyak sekali nilai yang terkuak dalam waktu beberapa jam. Nilai-nilai tersebut memperkaya pustaka nilai para mahasiswa baru secara khusus. Hal-hal yang akan dimuat dalam resume ini berkaitan langsung dengan seminar yang telah dilaksanakan tersebut, terutama hal-hal yang paling dekat dengan kebutuhan mahasiswa baru.

Awal seminar memberikan penekanan awal tentang pentingnya soft skill bagi mahasiswa, suatu hal yang dapat dikatakan harus benar-benar diperhatikan terutama di masa global seperti sekarang ini. Soft skill tersebut harus pula dipadukan dengan keinginan berlimpah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perpaduan ini akan menciptakan suatu kolaborasi saling isi dan saling dukung guna mencapai hasil sebaik mungkin atau setidaknya sesuai dengan target yang diinginkan.

Kecermatan memang diperlukan dalam merancang masa depan mengingat apa yang kita lakukan dan inginkan saat ini untuk masa depan kita memiliki relevansi yang kuat dengan masa depan kita itu sendiri. Mahasiswa pun dituntut untuk dapat menjadi individu-individu yang kelak dapat membangun, mengembangkan, serta mempertahankan kemahiran teknologi, kesinambungan demokrasi, kekayaan budaya, dan kesejahteraan yang syarat akan pemerataan demi mempertahankan kekompetitifan NKRI.

Mahasiswa sebaiknya mulai memperhatikan diversifikasi yang terjadi dalam berbagai bidang dan menanggapinya dengan menyiapkan diri untuk menjadi pelaku diversifikasi tersebut, bukan sekadar pengikut diversifikasi yang dijalankan oleh ide-ide di luar kepala. Ada pula satu hal yang mesti diperhatikan jika kita ingin mengukur tingkat kesuksesan suatu bangsa, dalam hal ini NKRI, suatu bangsa dapat dinyatakan telah sukses manakala bangsa tersebut memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melaksanakan ekspor budaya, sayang, NKRI belum dipandang sampai pada tahap tersebut. Di sinilah peran mahasiswa untuk memperbaiki dan mengembangkan.

Titik terpenting dari seluruh permulaan adalah betapa pentingnya menyatukan dan menggunakan logika serta empati untuk membaca Indonesia. Tak menjadi angka tanpa rasa dan tidak pula menjadi emosi tanpa takaran. Keduanya harus digabungkan dan digunakan bersamaan dalam menghadapi tiap-tiap halang rintang di tengah jalur lari para mahasiswa. Membaca Indonesia haruslah untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan golongan, apalagi diri sendiri. Membaca Indonesia dengan ideal tersebut hanya dapat dilakukan dengan menggunakan logika dan empati dalan melihat situasi, membaca Indonesia hanya dengan logika akan langsung menuntun pada membaca Indonesia untuk diri sendiri, hanya menggunakan angka tanpa rasa, hanya ada plus dan minus, tak ada bagi.

Angka tanpa rasa merupakan petaka bagi kehidupan suatu bangsa, terlebih jika nilai tersebut telah ditanamkan semenjak mahasiswa. Mahasiswa yang kelak akan menjadi pijakan pilar penopang bangsa haruslah mahasiswa yang memiliki rasa, yang tidak menakar keberhasilan mereka hanya dari hasil yang mereka terima, namun yang menakar keberhasilan mereka dari pertumbuhan yang terberdayakan di sekitar mereka. Oleh karena itu, sangat diperlukan sisipan nilai sosial dalam tiap pendidikan untuk mengubah paradigma angka menjadi angka dan rasa.

Seminar yang dilaksanakan telah memberikan satu inti gamblang tanpa tabir mengenai betapa banyaknya faktor serta nilai yang harus digenggam oleh mahasiswa di luar subjek akademik terutama di zaman global penuh ide dan paradigma seperti sekarang. Hal tersebut dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi mahasiswa tersebut sebagai individu serta bangsa yang berisi 250 juta individu di bumi khatulistiwa.

No comments:

Post a Comment