Pada dasarnya, serangkaian materi yang disajikan sepanjang OSKM bermuara pada sebuah gong akan pentingnya mahasiswa menyadari bahwa waktu mereka tidaklah banyak dalam masa transisi, dari suasana SMA ke suasana universitas. Pemberian setumpuk materi teoritis tentang budaya kampus, falsafah kemahasiswaan, dan lain sebagainya hanyalah suatu stimulus yang disuntikan untuk mempercepat proses transisi tersebut atau lebih penting lagi untuk mempercepat kesadaran mahasiswa baru akan pendeknya waktu transisi yang mereka miliki. Mengingat, jika mereka terlambat sebentar saja dalam proses transisi ini maka mereka akan terlindas oleh laju perkembangan yang begitu cepatnya di kampus tercinta.
Transisi pertama dan paling utama yang harus dilakukan para mahasiswa adalah mengubah budaya teoritis dan based on the text yang mereka punyai dan jalani selama ini. Dengan kata lain, budaya tersebut hanyalah lagu lama dan masa lalu yang harus cepat disimpan--memang bukan untuk dilupakan. Teks dan teori yang ada memang patut untuk ditelaah, namun pada perkembangannya, dalam kehidupan kampus, menelan bulat-bulat teks dan teori tersebut dan menginterpretasikannya kembali bulat seutuhnya adalah suatu cara yang jelas salah, keliru, dan tidak efisien. Transisi awal mengharuskan mahasiswa baru untuk belajar menjadikan teks dan teori sebagai bahan pondasi pola pikir serta interpretasi personal guna menjawab suatu permasalahan sehingga translasi tidaklah lagi sama dengan mengubah "A" menjadi "a", namun sudah berevolusi, mengubah "A" menjadi "kekayaan" dan "keilmuan".
Di samping urgensi untuk mengubah budaya lawas tersebut, hal yang menjadi pusat perhatian transisi awal adalah untuk mengubah irama dan tempo berkegiatan. Dari jargon "jadikan setiap hari bermakna" menjadi "jadikan setiap detik bermakna", dengan kata lain, meningkatkan ritme bermain 86.400 kali lipat dari biasanya. Sikap ini akan menampakan suatu fenomena real tentang bagaimana tiap-tiap individu mencitrakan empat tahun yang akan mereka jalani ke depannya. Ada yang bagaikan burung tekukur, ada yang bagaikan burung kenari, ada yang bagaikan dahlia, dan ada yang bagaikan kamboja.
Hal yang tidak utama, tidak mendesak, namun tetap harus diwujudkan dalam transisi awal adalah asimilasi budaya antara budaya SMA dengan budaya universitas. Mengubah budaya yang telah tertanam selama tiga tahun begitu saja dengan menempatkan budaya baru dalam waktu seminggu memang terlampau naif untuk dikiaskan. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika pada tahap awal ini dapat terajut sebuah asimilasi harmonis antara kedua budaya yang sama-sama--pernah dan akan--kita butuhkan tersebut. Tinggallah pada tiap-tiap individu untuk memilih kemudian manakala mereka dapat hidup lebih baik dengan dua budaya terasimilasi tersebut atau mereka harus menyimpan dan memilih salah satunya, satu yang pasti haram adalah jika mereka memilih budaya SMA yang telalh lalu sebagai pegangan mereka untuk meniti jembatan ke masa depan.
Titik yang kentara dari segala yang telah diberikan dalam serangkaian acara OSKM 2013 adalah pentingnya mahasiswa baru untuk cepat menyadari bahwa mereka sedang dan harus berada dalam transisi, suka atau tidak, mereka sudah sewajarnya berselancar dalam arus transisi yang menggelora cepat dari GKU Barat menuju GKU Timur.
No comments:
Post a Comment